Ketergantungan pada AI (Artificial Intelligence) dalam Kemampuan Logika Berpikir Siswa SMK Sultan Iskandar Muda Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL)
SMK Sultan Iskandar Muda, Medan yang merupakan tempat berlangsungnya pembelajaran bagi siswa kelas XI-RPL, sering mengalami isu dalam penggunaan AI, seperti hal umum yang terjadi pada siswa/i lain yang juga menekuni jurusan RPL. Kemudahan yang ditawarkan oleh tools seperti ChatGPT, GitHub Copilot, hingga Claude AI dalam menghasilkan kode program memang sangat menggiurkan bagi para programmer, seperti dalam kasus ini keinstanan dikhawatirkan dalam penghambatan proses pembelajaran siswa.
Meskipun didalam perkembangan dunia digital sekarang, sudah mengenal istilah Vibe Coding, yaitu penggunaan AI untuk membuat suatu web, aplikasi, ataupun sistem, namun apakah hal ini bisa menjadi solusi untuk kecemasan kognitif siswa? Tren penggunaan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) di sektor pendidikan terus melonjak drastis sejak tahun 2021(pasca-pandemi) sampai pada saat ini (2026). Di kalangan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kompetensi keahlian Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). AI kini bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi penopang utama dalam menyelesaikan tugas-tugas pemrograman. Fenomena ini memicu alarm kewaspadaan karena berisiko mematikan logika berpikir orisinal calon pengembang perangkat lunak masa depan.
Dari "Copas" Menjadi "Generasi Salin Kode"
Jika dulu siswa RPL harus bergelut berjam-jam dengan error dan logika pemrograman (algoritma), kini mereka hanya perlu memasukkan perintah teks (prompt). Dalam hitungan detik, baris-baris kode pemrograman yang kompleks langsung tersaji secara utuh. “AI memang sangat membantu dalam proses coding, namun karena terlalu mengandalkan AI, sehingga semua code yang salah saya hanya selalu bertanya pada AI, tanpa benar benar paham", ujar Ceria salah satu siswa XI-RPL
Kemudahan generatif ini memicu fenomena yang disebut para akademisi sebagai cognitive debt (utang kognitif) dan cognitive surrender (penyerahan kognitif). Ketika siswa terlalu pasif menerima hasil jadi dari AI tanpa melakukan analisis, aktivitas saraf dalam proses belajar mereka dilaporkan dapat menurun drastis.
AI sebaiknya menjadi pendamping belajar, bukan pengganti proses berpikir itu sendiri.
Dampak negatif dari ketergantungan ini mulai terlihat saat evaluasi pembelajaran secara tatap muka. Banyak siswa yang mampu membangun proyek aplikasi megah di rumah, namun mendadak bingung dan gagap saat diminta menjelaskan alur logika kodenya sendiri atau melakukan live coding di depan kelas. Penyalahgunaan AI dalam dunia pendidikan teknologi ini setidaknya mencakup beberapa poin krusial:
- Pembuatan program/coding 100% via AI tanpa memahami struktur fundamental algoritma.
- Penurunan daya analisis akibat terbiasa mendapatkan solusi instan.
- kreativitas karena kode yang dihasilkan cenderung mengikuti pola seragam yang ada di database AI.
Regulasi Pemerintah dan Langkah Mitigasi Sekolah
Kondisi ini sejalan dengan langkah tegas pemerintah yang baru-baru ini mengeluarkan pedoman bersama antar-kementerian untuk membatasi penggunaan chatbot AI berbasis teks di tingkat sekolah menengah. Pemerintah menekankan bahwa AI hanya boleh memosisikan diri sebagai suplemen pendorong berpikir kritis, bukan pengganti kemampuan intelektual dasar. Untuk menyiasati hal tersebut, sejumlah sekolah RPL mulai mengubah metode penilaian mereka. Sistem penilaian kini lebih berfokus pada presentasi oral, ujian berbasis proyek tatap muka (project-based assessment), serta sesi tanya jawab mendalam mengenai arsitektur kode yang dibuat siswa.
Pendidik mengingatkan bahwa industri teknologi tidak mencari manusia yang pandai menyalin kode dari AI, melainkan insinyur perangkat lunak yang memiliki ketajaman logika untuk menyelesaikan masalah dunia nyata. AI adalah asisten yang hebat, namun logika manusia tetaplah sang arsitek utamanya.